Skip to main content
Education

Nurul Izzah Anwar: Anak Harus Mandiri

By 22 August, 2010February 5th, 2021No Comments

Kamis, 5/8/2010 | 17:56 WIB

Kompas FEMALE

FACEBOOK

Nurul Izzah Anwar: “Anak harus tahu bahwa ia tidak akan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya!”

KOMPAS.com – Nurul Izzah Anwar, putri mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Datuk Anwar Ibrahim, Senin hingga Kamis ini melakukan kunjungan ke Indonesia. Dalam kunjungannya ini, Izzah -begitu perempuan ini biasa disapa- antara lain bertemu dengan sejumlah pemimpin muda Indonesia, baik dari kalangan politik maupun universitas.

Jadwalnya padat, namun Rabu (4/8/2010) lalu Izzah menyempatkan diri berkunjung ke kantor redaksi Kompas. Ia membawa serta putra bungsunya, Ahmad Harith (1 tahun), yang saat itu ditemani pengasuhnya.

Sebagai staf ahli Parlimen Lembah Pantai yang juga ibu dari dua anak batita, Izzah berusaha sebisa mungkin tetap mendapatkan quality time-nya bersama anak.

“Bila dalam setiap acara memungkinkan saya untuk membawa anak, saya coba. Seperti sekarang ke Indonesia saya membawa anak kedua saya. Tentunya (membagi waktu) tidak akan perfect, ya. Tetapi sebagai ibu saya sudah mencoba menyeimbangkan sampai titik ekstrem,” ujar Izzah

Ditanya apakah ia akan membawakan oleh-oleh untuk si sulung (Nur Safiyah, 2,5 tahun), Izzah menggeleng sambil tertawa. Ia mengaku tak sempat jalan-jalan, mengingat banyak teman dan sahabat ayahnya yang ingin bertemu.

“Lagipula, anak harus tahu bahwa ia tidak akan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya,” tutur istri Raja Ahmad Shahrir ini.

Izzah memiliki pandangan sendiri mengenai peran ibu ini. Menurutnya, menunjukkan kasih sayang kepada anak tidak hanya dalam bentuk pemberian hadiah, tetapi juga memberikan suatu bentuk pengajaran agar ketika besar nanti anak bisa mandiri.

“Kalau kita limpahkan segala bentuk kasih, berikan semua barang materialistik, apa kabar masa depan yang akan dinikmati anak kita nanti? Saya sendiri menghadapi jaman suka dan pelik semasa ayah dipenjarakan tahun 1998. Jadi saya mau anak saya itu diberi bekal sebagai seorang Islam, iman, dan membekalinya dengan persediaan untuk menempuh hidup, agar berdikari,” katanya.

Bekal dalam hidup, menurutnya, bukan hanya dalam bentuk “silver spoon” saja. Kekayaan juga bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan kebahagiaan anak.