Skip to main content
Education

Nurul Izzah Anwar: Antara Politik dan Keluarga

By 23 August, 2010February 5th, 2021No Comments

Jumat, 6/8/2010 | 17:38 WIB

Facebook- Bersama sang suami, Raja Ahmad Shahrir.

KOMPAS.com – Sejak sang ayah, mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato’ Seri Anwar Ibrahim, ditendang dipenjarakan akibat kasus korupsi dan sodomi tahun 1998, Nurul Izzah Anwar turut aktif menyuarakan reformasi. Bersama ibunya, Wan Azizah Wan Ismail, Izzah mengikuti jejak ayahnya di bidang politik. Sepuluh tahun kemudian, Izzah telah memenangi kursi parlemen sebagai wakil Partai Keadilan Rakyat di daerah pemilihan Lembah Pantai, Kuala Lumpur, dalam pemilu Maret 2008.

Seperti diberitakan harian KOMPAS saat itu, Izzah menjadi anggota termuda parlemen Malaysia yang terpilih pada pemilu tahun itu. Usianya baru menginjak 28 tahun. Dia juga baru saja melahirkan bayi perempuan, Nur Safiyah. Namun, Izzah tidak khawatir dengan semua itu.

”Seperti yang telah saya lakukan selama kampanye dalam 13 hari terakhir, saya berusaha membagi waktu sebaik-baiknya untuk kampanye dan untuk anak saya. Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar,” tutur perempuan kelahiran November 1980 ini.

Kariernya sebagai staf ahli Parlimen Lembah Pantai di bawah naungan Partai Keadilan Rakyat, ternyata tidak membuat Izzah melupakan hak dan tanggung jawabnya sebagai ibu dan istri. Ia bersyukur suaminya, Raja Ahmad Shahrir, selalu mendukung aktivitasnya.


“Alhamdulillah, suami saya dari dulu kan memang mendukung. Merupakan suatu syarat bila berkahwin dengan saya, bahwa beliau menyadari tanggung jawab yang harus saya pikul sebagai ahli politik, dan menyokong saya semasa bertanding (dalam pemilu),” papar Izzah pada Kompas Female, saat berkunjung ke redaksi KOMPAS, Rabu (4/8/2010) lalu.

Izzah mengenal sang suami sejak sama-sama berjuang dalam era reformasi, dan akhirnya memutuskan menikah pada tahun 2003. Namun, baru tahun 2007 pasangan ini memiliki buah hati (Safiyah, kini 2,5 tahun). Usai menikah, Izzah masih kuliah di semester akhir. Ada alasan mengapa ia tak segera memutuskan memiliki anak.

“Kiranya saya pikir kalau mempunyai anak itu suatu komitmen besar. Jadi kita menerima rejeki, tapi jangan kita lupa tanggung jawab yang datang sebagai seorang ibu,” tutur sarjana teknik elektro dari Universiti Tenaga Nasional, dan master hubungan internasional dari Universitas John Hopkins, Washington, DC, ini.

Ketika akhirnya dikaruniai momongan, Izzah ditantang untuk melakukan peran gandanya: sebagai perempuan berkarier dan seorang ibu. Sebisa mungkin ia menyeimbangkan masa-masa bersama keluarga, dan masa bersama rakyat.

Untuk mendapatkan waktu lebih banyak bersama putra-putrinya, Izzah selalu membawa mereka saat bertugas. Seperti awal minggu ini, ketika berkunjung ke Indonesia, ia membawa anak bungsunya, Raja Ahmad Harith (1). Membawa anak saat bertugas boleh dibilang suatu budaya baru di Malaysia. Namun Izzah yakin, kalau ia selalu mencoba melakukan budaya ini, lama-kelamaan rakyat di bawah konstituennya akan memahami bahwa sebagai perempuan ia memiliki tanggung jawab lain.

Ia menyadari, pasti tidak semua pihak bisa menerima keputusannya. Tetapi, perlahan-lahan perempuan pasti mampu membuktikan keikhlasan dan komitmennya untuk menyeimbangkan kedua perannya. Apapun yang terjadi, katanya, baik anak maupun konstituen jangan sampai dipinggirkan.

Izzah merasa tak mungkin meninggalkan dunia politik saat ini. “Saya pikir, kita punya tanggung jawab karena masa depan yang saya ukir adalah masa depan yang akan ditanggung oleh anak-anak saya nanti.”